Lampung Masuk Dalam 100 Kabupaten/Kota Prioritas Nasional Lokus Penanganan Stunting

BANDARLAMPUNG, LAMPUNGWAWAI.COM – Provinsi Lampung masuk dalam 100 Kabupaten/Kota di Indonesia yang menjadi prioritas nasional lokus penanganan Stunting. Berangkat dari situasi dan kondisi tersebut, perwakilan dari 9 lembaga peduli Stunting yang ada di indonesia telah mendeklarasikan “Aliansi CSO Indonesia Peduli Stunting” yang berkomitmen dalam mendorong upaya percepatan, pencegahan, penanganan dan penurunan masalah gizi kronis tersebut.

Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), Febrilia Ekawati mengatakan, Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya.

“WHO (World Health Organization) pada tahun 2017 mencatat, angka stunting Indonesia mencapai 36,4 % dan menempati urutan ketiga sebagai negara prevalensi tertinggi di Asia. Stunting bukanlah persoalan parsial, namun urusan semua orang. Pencegahan dan penanganannya tidak cukup hanya melalui intervensi spesifik sektor kesehatan semata melainkan juga perlunya keterlibatan sektor-sektor,”ujarnya.

Untuk mencegah hal itu pemerintah mencanangkan program intervensi pencegahan stunting terintegrasi yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga. Program kerjasama lintas sektor ini diharapkan indonesia dapat menurunkan angka stunting hingga 40% pada 2025 sesuai target SDGs.

“Data terbaru hasil Riskesdas (2018) memperlihatkan, prevalensi stunting Indonesia mulai menurun hingga 30,8 %. Namun demikian, angka ini masih berada di atas batas toleransi sebagaimana ketetapan WHO yakni maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita,”papar Febrilia.

BACA:   Ahmad Dhani: Prabowo Membuat Indonesia Lebih Besar

Berangkat dari situasi dan kondisi tersebut, Lanjut Febrilia, ada 9 Civil Society Organization (CSO) yaitu YKWS Lampung, Mitra Bentala Lampung, PKBI Sumatera Barat, LP2M Padang, KONSEPSI NTB, TRANSFORM NTB, YPPS Flores Timur, Bengkel APPEK Kupang dan AYO Indonesia Manggarai, telah mendeklarasikan Gerakan NGO (Non Governmnet Organization)  Indonesia Peduli Stunting (GENTING) pada Jumat (29/03/19) lalu di Hotel Emersia Lampung.

Diprovinsi Lampung, Febrilia mengatakan, angka stunting tertinggi terdapat di Tiga Kabupaten yaitu Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur. Lalu bagaimana di kota Bandar Lampung sendiri apakah angka stuntingnya tergolong tinggi? Menurutnya pula, Stunting bukan hanya masalah persoalan pengetahuan saja, melainkan kondisi lingkungan.

Ia mengatakan, khusus di kota Bandar Lampung, hal ini dapat dilihat dari kondisi sanitasi di wilayah peisisir teluk Lampung yang ternyata sangat buruk. “Hal tersebut akan berpotensi besar untuk menghambat pertumbuhan kesehatan anak-anak disana dan otomatis akan ikut menyumbang tingginya angka stunting di wilayah Lampung juga,”ujarnya.

Balita penderita stunting cenderung akan lebih rentan terhadap penyakit. Ketika dewasa, mereka umumnya memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal dan berisiko mengidap penyakit degeneratif sehingga menurunnya tingkat produktivitas.

BACA:   Resmi Jabat Kapolda Lampung, Brigjen Pol Purwadi Disambut Atraksi Polisi Cilik

“Pada akhirnya, stunting diyakini akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan. Tentunya, situasi ini jika tidak diatasi segera maka dapat dipastikan Indonesia tidak mampu bersaing  menghadapi tantangan global di masa depan,”ujarnya.

Pemerintah sendiri telah berkomitmen menurunkan prevalensi stunting sebesar 28 % di tahun 2019 sebagaimana sasaran pembangunan kesehatan pada RPJM 2015-2019 dan komitmen global SUN (Scaling Up Nutrition).

Bahkan, intervensi sensitif (di luar sektor kesehatan) dinilai memiliki kontribusi lebih besar (70 %) dari intervensi spesifik. Hasil studi IFPRI (2018) menemukan bahwa stunting memiliki keterkaitan erat dengan masalah sanitasi (PHBS), ketahanan pangan, tingkat pendidikan orang tua, pola asuh, pelayanan kesehatan, dan kesejahteraan.

“Oleh karena itu, percepatan penurunan stunting memerlukan keterlibatan banyak sektor dan berbagai pemangku kepentingan pembangunan dengan berbagai keahlian melalui pendekatan konvergensi terintegrasi dengan sasaran pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) seorang anak hingga berusia 6 (enam) tahun.”papar Febrilia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Mitra Bentala Lampung, Mashabi mengatakan, angka stunting di Lampung sendiri sangat tinggi, karena itu, provinsi Lampung sendiri masuk dalam 100 Kabupaten/Kota yang menjadi prioritas nasional/ lokus penganganan Stunting.

“Terutama di 3 Kabupaten yang sudah disebutkan tadi. Ukurannya, dari WHO tidak boleh melewati persentase setinggi 20 persen batas toleransi. Inilah yang kedepannya akan menjadi fokus kami dari teman-teman NGO dengan target penurunan angka stunting tersebut,” Ujar Mashabi.

BACA:   Meriah, Begini Penampakan Suasana Parade Budaya Krakatau 2018

Dari hasil Deklarasi Gerakan NGO (Non Governmnet Organization)  Indonesia Peduli Stunting (GENTING), 9 CSO tersebut telah mengeluarkan butir-butir pernyatan sikap yaitu:

  1. Mendorong upaya-upaya percepatan pencegahan, penanganan dan penurunan stunting oleh Pemerintah Daerah (Propinsi dan Kabupaten) di seluruh Indonesia melalui pendekatan konvergensi terintegrasi yang dituangkan dalam program atau aksi nyata bersifat spesifik dan sensitif dengan sasaran pada 1.000 HPK seorang anak hingga berusia 6 tahun.
  2. Memastikan kebijakan-kebijakan daerah dalam upaya mendorong percepatan pencegahan dan penanganan stunting tersebut sebagaimana butir di atas harus memperhatikan isu-isu jender, inklusi sosial dan adaptasi perubahan iklim.
  3. Memandang perlunya inisiasi Platform CSO di tingkat nasional maupun lokal untuk mengembangkan jejaring pembelajaran dan berbagi pengalaman advokasi kebijakan berbasis bukti;
  4. Mendorong peran aktif dari Universitas dan Lembaga-Lembaga Riset untuk fokus pada kajian-kajian dan analisis-analisis terkait pencegahan dan penanganan stunting sebagai dasar bagi perencanaan dan pengembangan kebijakan percepatan penurunan stunting.
  5. Mengajak keterlibatan kalangan dunia usaha/sektor-sektor swasta untuk berjejaring dan berkolaborasi dalam mendukung percepatan penurunan stunting sebagai bagian dari tanggung jawab sosial (Ysf).

Laporan Berita Reporter LampungWawai.com, Yusuf Andoko

Komentar