Selain Warkop DKI, Ini Group Lawak Legendaris Indonesia Lainnya

BANDARLAMPUNG, LAMPUNGWAWAI.COM –  Berbicara mengenai dunia komedi Indonesia, tentu yang paling popular ditelinga kita pasti langsung teringat dengan satu nama group lawak legendaris terkenal yaitu Warkop DKI yang beranggotakan Dono, Kasino dan Indro.

Namun selain Warkop DKI, di era dulu (tahun 60 sampai 80an) Indonesia pun pernah memiliki group lawak legendaris yang mungkin nama-namanya masih asing ditelinga generasi saat ini. Berikut ini adalah pemaparan singkat mengenai beberapa group penghibur yang pernah Berjaya di masanya.

JAYAKARTA GROUP

Jayakarta Group personilnya terdiri dari Djuhri Masdjan alias Jojon, U’u, Suprapto, dan Cahyono sebagai pimpinan grup. Grup lawak yang eksis pada tahun 70/80-an ini memiliki maskot yang tak lain ialah si Jojon dengan ciri khas nya yaitu mengenakan kumis kecil kotak ala Charlie Chaplin/Adolf Hitler dan celana bretel menggantung yang kerap kedodoran.

Dalam aktingnya Jayakarta Grup membagi peran kepada personelnya seperti Cahyono  yang biasa berperan sebagai pembuka/pegumpan topik lawakan, Jojon selalu menjadi  karakter yang sering dikerjai karena penampilannya, lalu Uuk yang kerap mendapat peran sebagai seorang preman serta Prapto yang sering berperan menjadi seorang wanita bernama Esther.

D’BODORS

Ditahun 1970an awalnya group ini beranggotakan Raden Achmad Yusuf Wargapranata (Abah Us Us), Sup Yusup, dan Rudi Djamil, lalu ditahun 1980an terjadi perombakan personil yaitu Abah Us Us, Uyan Suryana (Yan Asmi), dan Kusye (Engkus). D’Bodors merupakan Trio pelawak yang di eranya kerap mengisi layar TVRI dengan banyolan khas nya yang berkultur Sunda.

BACA:   Salahkan Tindakan Polisi, Pengacara Fariz RM: Direhab Bukan Dipenjara

Grup D’Bodors dalam menyajikan lawakannya tak hanya menghadirkan guyonan jenaka lewat kata-kata tapi juga lewat lagu dan gerak yang mengandung humor yang cerdas. Salah satu yang menjadi ciri khas pada group lawak ini ketika pentas ialah Abah Us Us yang kerap mengenakan peniti raksasa pada bajunya.

SRIMULAT

Bisa dibilang sebagai Group Lawak yang memiliki anggota terbanyak dan sanggup bertahan begitu lama menghadapi terkaman perubahan jaman tanpa merubah konten lawakan terhitung ke eksisannya mulai di era 60 sampai tahun 90an.

Pada awalnya group ini bernama Gema Malam Srimulat yang didirikan oleh Kho Tjien Tiong atau lebih dikenal dengan nama Teguh Slamet Rahardjo pada tahun 1950 di kota Solo bersama isterinya yaitu Raden Ayu Srimulat.

Gema Malam Srimulat pada mulanya merupakan kelompok seniman keliling yang melakukan pentas dari kota ke kota di Jawa Timur sampai ke Jawa Tengah. Ciri khas dari group ini melalui sang pendiri Teguh Slamet Rahardjo yaitu mengadopsi dan menggabungkan berbagai unsur wayang orang dan ludruk untuk memikat penggemarnya.

Singkat cerita pada tahun 1961, Gema Malam Srimulat berubah nama menjadi Srimulat dan mulai saat itu group ini tampil tetap di Tempat Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, dan mulai saat itulah tonggak sejarah bagi Srimulat yang mulai melebarkan nama besarnya.

BACA:   Belum bisa Move On, Nafa Urbach dan Zack Lee Rujuk?

Beberapa nama-nama yang pernah eksis didalam group ini seperti Tarsan, Gepeng, Asmuni, Djudjuk, Paimo, Pete, Timbul,  Tessy, Bandempo, Basuki, Betet, Subur, Polo, Mamiek Prakoso,Doyok,  Nurbuat, Gogon, Eko, Kadir, Pak Bendot, Bambang Gentolet, Karjo AC-DC, Triman, Paul, Rohana, Topan dan Leysus, Nunung dan Tukul.

BAGIO CS

Seperti namanya, group ini dikomandoi oleh S. Bagio Almarhum S. Bagio bersama kawan-kawan groupnya yaitu Darto Helm, Diran, dan R. Saleh Apandi (Sol Saleh). Sebelum membentuk kelompok yang paten tersebut, ia pernah bergabung dengan beberapa pelawak legendaries lainnya seperti Ateng dan Iskak, Eddy Sud dan juga Bing Slamet.

Keunikan dari Bagio sendiri ialahkerena dirinya merupakan pelawak freelance yang kerap bergabung dengan group lawak lainnya seperti Jayakarta group misalnya, sampai membintangi puluhan judul film.

Popular di era 70an, Dalam kelompok tetapnya, Bagio terkenal berperan sebagai tokoh yang latah dan sok tahu, lalu Sol Saleh sebagai sosok pengumpan lawakan, serta Darto Helm dengan karakter yang grusa-grusu dan Diran sebagai sosok yang pintar-pintar bodoh.

KWARTET DJAYA

Kwartet Jaya terdiri dari Bing Slamet, Eddy Sudiharjo, Kho Tjeng Lie alias Ateng, dan Iskak Darmo Suwiryo. Salah satu pentolan dari group ini yaitu Bing Slamet yang tak lain merupakan ayah dari Adi Bing Slamet tersebut adalah figur multitalenta, karena selain berprofesi sebagai pelawak, dia juga aktif sebagai aktor, musisi, dan pengarang lagu.

BACA:   Masih Berani Coba Momo Challenge, Tanggung Sendiri Akibatnya

Grup Kwartet Jaya merupakan primadona didunia lawak sejak tahun 60an. Sebelum bergabungnya Ateng, grup ini bernama EBI, singkatan dari para nama anggotanya (Eddy Sud, Bing, Iskak.).

Isi lawakan yang cerdas dan menggelitik serta dibarengi dengan ilmu pengetahuan yang luas merupakan ciri khas dari materi lawakan grup ini. Kwartet Djaja mampu melawak bagi golongan bawah sampai atas melalui materinya yang menarik. Tak seperti grup lawak kebanyakan ketika itu, Kwartet Jaya biasa tampil tanpa skrip dengan mengandalkan improvisasi semata di atas panggung.

Bing Slamet kerap menjadi si sumber ide yang kemudian dikembangkan oleh yang lainnya. Ia pandai  menirukan logat bahasa daerah dan gaya perempuan, juga pandai menyanyi, main musik, dan berbahasa Inggris.

Sedangkan Ateng melawak dengan bentuk tubuhnya yang tambun dan kontet, tingginya hanya sekitar 145 cm saja. Biasanya ia berperan tampil dengan gaya yang sok, Lalu Iskak tampil khas dengan tingkahnya yang tolol. sementara Eddy Sud, kerap bergaya cool dengan wajahnya yang tampan dan juga biasa menjadi pengumpan materi lawakan.

Tidak hanya melawak lewat panggung hiburan, pada tahun 70an Bing Slamet pun mendirikan sebuah perusahaan perfilman bernama Safari Sinar Sakti Film Corp. dengan beberapa filmnya yang sempat diproduksi, seperti Bing Slamet Setan Jalanan (1972),Bing Slamet Sibuk (1973), Bing Slamet Dukun Palsu(1973), dan Bing Slamet Koboi Cengeng (1974).

 

 

Komentar