Sosok Presiden Terpilih Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA, LAMPUNGWAWAI.COM – Sosok presiden punya pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara global. Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saar menggelar diskusi bersama para pemimpin redaksi media di Gedung BI, Senin malam (7/1/2019).

Seperti diketahui, dalam pilpres nanti pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amien akan bertarung melawan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperebutkan kursi presiden dan wakil presiden.

“Kita lihat dari sisi ekonomi konsumsi 5,2%, social spending, bujet sudah diketok. Spending dari K/L (Kementerian/Lembaga) dengan bujet yang sekarang dengan 1,8% dari defisit itu sebenarnya relatif lebih limited. Yang sekarang itu, beyond yang untuk belanja pegawai, belanja untuk segala macam dilihat dari postur APBN enggak terlalu besar,” ujar Perry seperti dikutip detikcom.

Sedangkan dari sisi ekspor, menurut Perry, sepanjang masih didominasi komoditas maka tergantung pada permintaan dari luar negeri. Dia mengatakan kemungkinan yang terpengaruh adalah pola investasi, jika ada kelanjutan dan kepastian dari kebijakan maka laju investasi akan lebih tinggi dari perkiraan.

BACA:   Akui Miskomunikasi dengan Jonan, Menteri BUMN Akhirnya Klarifikasi Terkait Tarik Ulur Kenaikan Harga Premium

Sebaliknya, apabila ada ketidakpastian dari kebijakan baru tentu saja investor akan menunggu sampai ada kepastian.

“Itu barangkali mungkin pengaruhnya lebih kepada pola investasinya,” tutur Perry.

Sementara BI memprediksi harga bahan pangan di tahun pemilu 2019 ini tetap terkendali.

“Insyaallah harga-harga terkendali di tahun pemilu ini,” ujar Perry.

Prediksi tersebut mengacu pada capaian inflasi tahun lalu sebesar 3,13%, yang menunjukkan harga bahan pangan dan harga barang yang ditentukan kebijakan pemerintah, seperti BBM dan tarif listrik (administered price) terkendali.

Selain itu, menurut Perry, di 2019 ini inflasi juga akan terkendali.

“Tahun ini kami memperkirakan inflasinya sekitar 3,5%, titik tengahnya, 3,5% plus minus 1. Jadi, Insya Allah harga-harga akan tetap terkendali dan rendah,” kata Perry.

Di sisi lain, Perry tak menampik BI akan melakukan relaksasi terhadap suku bunga acuan, terutama setelah adanya tanda-tanda melunaknya kebijakan Pemerintah AS dan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve.

“Moga-moga kebijakan Trump bisa selesai, Fed Fund rate tidak terlalu tinggi. Kalau kita lihat memang tanda-tandanya fed fund rate sudah peak dan inflasi rendah tentu ada room untuk menggali lagi kebijakan suku bunga,” kata Perry.

BACA:   Ini 10 Aturan Baru Seleksi CPNS 2018, Sebaiknya Bimbel Biar Lulus

Dia menambahkan BI akan terus memperhitungkan dengan matang mengenai kebijakan bunga acuan. Bunga acuan yang ditekanpun juga akan diimbangi dengan sejumlah relaksasi yang membuat kredit masih bisa tetap tumbuh.

“Jadi ini time matter. Masalah timing. Mumpung suku bunganya belum berdampak, kami kasih obat manis yang lebih banyak supaya dampaknya ke kredit tidak terlalu. Pertumbuhan kredit masih 12-13% secara nasional,” ujarnya. (*)

Komentar